Senin, 23 April 2012

ANALISIS STRUKTUR DAN GAGASAN NOVEL BELANTIK (BEKISAR MERAH II) KARYA AHMAD TOHARI DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan aktualisasi kehidupan. Sastra berisi kekuatan yang berisi pengalaman  dan pengetahuan dari pengarang. Karya sastra menjadi indah karena dibingkai dalam bentuk yang menarik dan disajikan dengan isi yang memikat pembaca. Karya sastra berbeda dengan karya yang lain karena karya sastra memiliki aspek keindahan dalam penggunaan bahasa. Karya sastra terdiri dari beberapa macam.
Novel adalah salah satu bentuk karya sastra. Novel adalah cerita atau rekaan (fiction), disebut juga teks naratif (narrative teks) atau wacana naratif (narrative discourse). Peristiwa, tokoh, dan tempat yang ada dalam fiksi adalah peristiwa, tokoh, dan tempat yang imajinatif. Dalam novel terdapat satu pilihan di antara berbagai aspek kehidupan untuk diperhatikan (Boulton dalam Al-Ma’ruf, 2010: 2). Melalui kesusastraan kita dapat belajar banyak tentang hidup ini dengan menemukan apa yng dianggap penting oleh orang lain Sumardjo dalam Al-Ma’ruf: 2).
Novel berisi peristiwa-peristiwa yang berkaitan membentuk ikatan yang saling mempengaruhi. Selain itu, dalam novel terdapat unsur-unsur utama dan pendukung yang menjadikan novel dapat dinikmati oleh pembaca. Dari novel pembaca dapat mengambil makna atau pesan yang disampaikan baik secara tersurat maupun tersirat oleh pengarang. Tetapi pada umumnya pengarang menyampaikan gagasan atau pesan yang akan disampaikan secara tersirat. Sehingga tak jarang pembaca harus bekerja dengan penuh kemampuan untuk menemukan makna yang disampaikan pengarang.
Novel Belantik (Bekisar Merah II ) merupakan novel karangan Ahmad Tohari. Novel ini merupakan novel lanjutan dari novel sebelumnya Bekisar Merah yang terbit tahun 1993. Novel ini diterbitkan pada tahun 2001. Salah satu karyanya yang terkemuka adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986).Ahmad Tohari adalah pengarang yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Karya-karyanya sebagian besar mengambil latar di daerah pedesaan. Dia juga pengarang yang kritis terhadap keadaan bangsa. Karyanya juga ada yang merupakan bentuk kritisi terhadap keadaan pemerintahan yang tidak sesuai dengan keadilan. Pada tulisan ini akan dibahas mengenai struktur lahir dan gagasan yang terdapat pada novel Belantik (Bekisar Merah II ).
B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah struktur dari novel Belantik (Bekisar Merah II )?
2.    Apakah gagasan yang terdapat dalam novel Belantik (Bekisar Merah II )?

C.      Tujuan Penulisan
1.    Mendeskripsikan struktur dari novel Belantik (Bekisar Merah II ).
2.    Menguraikan gagasan yang terdapat dalam novel Belantik (Bekisar Merah II ).

D.      Manfaat
1.    Mengungkap analisis struktur lahir dan gagasan pada novel pada Belantik (Bekisar Merah II ).
2.    Sebagai pijakan awal bagi peneliti lain yang ingin melakukan analisis novel Belantik (Bekisar Merah II ) dengan pendekatan yang berbeda.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Struktur Luar
1.      Tema
Novel Belantik (Bekisar Merah II) ini memiliki tema kehidupan yang berkebalikan dari keadaan nyata. Manusia adaalah makhluk paradoksal. Banyak hal-hal yang disampaikan pengarang dengan sajian yang berkebalikan.
Orang yang berpendidikan dan memiliki wewenang kebijakan justru menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingan pribadi. Mereka mengorbankan kepentingan rakyat kecil. Novel ini mencerminan dari keadaan sosial di masyarakat. Rakyat kecil yang hidup diantara kepentingan pribadi para penguasa.
Hal lain yang menjadi bagian dari keterbalikan keadaan ini adalah apa yang dirasakan tokoh Lasi. Walaupun Lasi berada pada keadaan hidup yang mewah, tetapi ia tidak merasakan keindahan hidup yang sebenarnya. Ia merasakan hidup seperti dalam angan-angan.
2.      Fakta Cerita
a.    Latar
Latar adalah latar belakang terjadinya cerita. Latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar waktu, tempat, dan sosial.
1)      Waktu
Novel Belantik (Bekisar Merah II) ini memiliki latar waktu yang cukup lama. Beberapa data yang terdapat dalam novel ini meunjukkan novel ini bersetingkan waktu antara tahun 1966 sampai dengan tahun1970-an.
“Sementara pemerintah baru Indonesia yang tak punya modal dan kurang pengalaman… padahal kebutuhan akan petrodollar dalam jumlah besar sudah sangat mendesak untuk menegakkan kekuasaaan Orde baru. (hal. 41)

Adalah seorang wartawan senior yang pada awal 70-an sangat gigih menggugat ketidakberesan dalam masalah minyak ini.(hal. 42)
Dari keterangan di atas dapat ditarik permasalahan bahwa kekuasaan Orde Baru dimulai ketika presiden Sukarno turun yaitu tahun 1966. Dan ada informasi mengenai kasus penggugatan  ketidakberesan masalah minyak sekitar tahun 1970-an.
2)      Tempat
Novel Belantik (Bekisar Merah II) memiliki latar tempat yang dominan berada di Jakarta. Memang tidak hanya Jakarta saja yang menjadi latar tempat pada novel ini. Tetapi Jakarta adalah latar yang paling sering disebutkan. Hal ini terlihat dari beberapa kutipan yang dinyatakan secara implisit maupun eksplisit.
“Sebetulnya ibu mau kemana? Atau hanya mau putar-putar? Atau mau ke Pantai Ancol? Kalau ya, saya mau menemani ibu.”

“Antar saya ke Cikini.” (hal 64)

Walaupun secara tidak langsung percakapan di atas menyebutkan nama daerah tertentu. Tetapi terdapat kata kunci yang spesifik menunjukkan nama suatu kota. Pantai Ancol dan Cikini adalah simbol dari sebuah kota yaitu Jakarta. Terdapat juga petunjuk yang secara langsung menyebutkan bahwa Jakarta merupakan tempat yang sering disebut.
... konon dialah yang mengatur siasat dan kongkalikong, sehingga pintu untuk  masuknya petrodolar ke Jakarta sesudah bung Karno tersingkir terbuka. (hal 6).
keterangan lain yang menunjukkan keterangan tentang tempat adalah
Lasi duduk tak tenang di beranda rumahnya yang megah di Slipi, Jakarta Barat.(hal 21-22)
3)      Sosial
Latar sosial novel ini adalah kehidupan di Ibukota yang keras. Keadaan lingkungan yang tidak seperti di desa yang penuh keramahan. Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh Lasi. Perbedaan itu dirasakannya ketika bertempat tinggal di Slipi. Berbeda dengan keadaan desa Karangsoga yang penuh keramahan dan kekeluargaan. Ketika tinggal di Slipi Lasi hanya merasakan kesepian dan kemasyarakatan yang kurang ramah. Keadaan sosial lain adalah bahwa kehidupan di Jakarta berorientasi pada materi. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan materi. Apa yang dilakukan Bu Lanting, Bambung, dan Handarbeni adalah cerminan kedudukan mampu menjadikan semuanya halal. Apapun mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
b.      Alur
Novel Belantik (Bekisar Merah II) memiliki alur maju. Pengarang mengisahkan rangkaian cerita dalam lima tahap.
a.    Pengenalan tokoh
Lasi adalah gadis desa. Ia merupakan gadis keturunan Jawa-Jepang. Ia pergi ke Jakarta karena kecewa dengan Darsa. Suaminya yang tega menghianatinya. Di Jakarta Lasi ditampung oleh bu Lanting. Seorang mucikari kelas atas. Berkat campur tangan bu Lanting, Lasi menjadi istri Handarbeni. Seorang purnawirawan yang berprofesi sebagai direktur perusahaan dan juga politisi.
b.    Pemunculan konflik
Bambung adalah seorang pelobi handal di ibukota. Relainya yang kuat membuat Bambung disegani banyak orang. Tak berbeda dengan Handarbeni, Bambung juga seorang priyayi Jawa yang memiliki banyak wanita simpanan. Pertemuannya dengan Handarbeni yang pada saat bersamaan menggandeng Lasi membat Bambung tertarik dengan Lasi. Ketertarikan Bambung itu membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan Lasi. Bambung yang memiliki kemampuan diplomasi yang dikenal kuat dan mengikat meminta Handarbeni untuk melepaskannya. Suatu tawaran yang berat untuk Handarbeni. Di satu sisi Handarbeni begitu mencintai Lasi karena Lasi begitu istimewa. Lasi berbeda dengan wanita lain yang pernah dinikahi Handarbeni. Tetapi di satu sisi, menolak permintaan Bambung sama saja mengamcam posisi kariernya. Bambung yang memiliki relasi orang-orang kuat tentu akan dengan mudah mendepak Handarbeni dari posisi jabatannya.
c.    Peningkatan konflik
Handarbeni menceraikan Lasi. Handarbeni lebih memilih mengamankan jabatannya. Dengan bantuan bu Lanting yang mengatur pertemuan antara Lasi dan Bambung di Singapura. Bambung dengan keahliannya merayu wanita memberikan beberapa barang untuk mendapatkan perhatian Lasi. Lasi adalah wanita yang setia. Walaupun ia sebagai bekisar, ia tetap memiliki karakter wanita jawa yang santun. Kekecewaannya pada Handarbeni karena telah menceraikannya membuat dia merasa sedih. Kehidupannya seperti tidak bermakna. Secara materi ia merasakan kenikmatan dengan harta yang melimpah. Tetapi secara batin ia merasa tersiksa. Banyak hal yang dirasakannya tidak ada artinya.
d.   Klimaks
Lasi memutuskan kabur dari Jakarta. Meski Bu Lanting mengancam bahwa Bambung dapat menangkap Lasi ke manapun dia lari, Lasi tetap nekat pergi dari rumah Handarbeni pulang ke kampung halamannya. Tak lama di Karangsoga, Lasi memutuskan untuk bersembunyi di rumah pamannya di Sulawesi Tengah. Lasi meminta kesediaan Kanjat mengantar ke Palu. Akhirnya, atas nasihat Eyang Mus, orang yang dituakan di Karangsoga, Lasi dan Kanjat dinikahkan sebelum berangkat ke Palu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar