Senin, 18 Juni 2012

PENDEKATAN STRATA NORMA DALAM MENGANALISIS PUISI DI DALAM DADA


BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki unsur estetis atau keindahan. Dalam puisi terdapat hal-hal yang menarik atau pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca. Karena puisi merupakan ekspresi pengarang terhadap keadaan atau pengalaman dan daya imajinasi pengarang terhadap keadaan. Menurut Jassin (dalam Situmorang, 1980:7) puisi merupakan penghayatan kehidupan manusia totalitas yang dipantulkan oleh pendapatnya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya, dll. Oleh karena itu dari puisi seorang pembaca dapat memetik dan mengambil manfaat dan pengetahuan serta pengaalaman dari pengarang.
Di dalam sebuah puisi terkadang apa yang dipikirkan pengarang berbeda dengan interpretasi dari pembaca. Memang dalam apresiasi sastra hal tersebut menjadi sah karena setiap orang atau pembaca memiliki daya interpretasi sendiri sesuai dengan keadaan dan pengalamannya dalam memahami sebuah karya sastra.
Untuk dapat memahami sebuah karya sastra diperlukan pendekatan agar dapat memetik makna yang disampaikan pengarang. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami makna tersebut. Diantaranya adalah pendekatan strata norma. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pendekatan strata norma dan penerapannya dalam menganalisis puisi Di Dalam Dada.
B.        Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian pendekatan strata norma?
2.      Bagaimana penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Di Dalam Dada ?


C.       Tujuan
1.      Mengetahui pengertian pendekatan strata norma.
2.      Mendeskripsikan penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Di Dalam Dada.

D.       Manfaat
1.      Memberikan penjelasan pesan makna puisi Di Dalam Dada bagi pembaca.
2.      Sebagai pijakan awal bagi peneliti lain yang ingin melakukan analisis puisi Di Dalam Dada dengan pendekatan yang berbeda.
BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Pendekatan Strata Norma
Dalam melakukan analisis terhadap sebuah puisi diperlukan pendekatan. Salah satunya pendekatan strata norma. Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiri.
Menurut beberapa pendapat terdapat tiga lapis atau tahap dalam melakukan analisis berdasarkan strata norma.
1.         Lapis norma pertama adalah lapis bunyi. Dalam pembacaan puisi akan terdengar serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang.
2.         Lapis norma kedua adalah lapis arti. Bunyi-bunyi yang ada bukanlah bunyi tanpa arti. Bunyi-bunyi disusun sedemikian rupa menjadi kata, frase, kalimat dan bait yang menimbulkan makna yang dapat dipahami pembaca.
3.         Lapis norma ketiga adalah lapis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi. Unsur intrinsik dan ekstrinsik itu bisa berupa latar, pelaku, lukisan-lukisan, objek yang dikemukakan, makna implisit, sifat-sifat metafisis, dan dunia pengarang.

B.        Analisis Puisi Di Dalam Dada dengan Penddekatan Strata Norma
DI DALAM DADA

jika dibelah dadaku
akan nampak semua yang diangan
                   
ada gunung ada lembah
ada pohon di pinggir sawah
jalan setapak menuju rumah

tapi ada juga kota lama
dengan gedung runtuh
dan langit terbakar merah

ada juga hutan rimba
tempat nyawa tersesat
terbayang di dalam
lengking rusa yang lari terluka
sudah berkumandang sebelum sempat bersuara

kalau alam tak terangkum dalam dada
bagaimana kata seakan terbit dari tiada
tangan akan hampa meraih ke udara

1.         Analisis lapis pertama (bunyi atau sound stratum)
Pembahasan pada lapis pertama ini hanya ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat istimewa. Yaitu bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Diantaranya pada bait kedua terdapat aliterasi h (lembah – sawah – rumah); pada bait keempat baris keempat terdapat asonansi a (rusa – terluka). Kemudian terdapat juga pengulangan huruf vokal yang sama pada bait kelima (dada – tiada – udara).
Selain hal di atas, terdapat pula rima yang digarap dengan mengesankan oleh Subagio Sastrawardoyo. Pada bait 1 memiliki rima (a b), bait ketiga (a – b – b) dan bait keempat ( a – b – c – a – a). sedangkan bait kedua dan kelima mempunyai rima yang sama yaitu (a).
Rima yang berupa asonansi dan aliterasi  pada puisi di atas berfungsi sebagai lambang rasa yang menambah keindahan puisi yang mencerminkan perasaan penyair.

2.         Analisis lapis kedua (arti atau units of meaning)
Pada kegiatan analisis lapis kedua ini, diberikan makna pada bunyi, suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi. Dalam kegiatan ini akan dianalisis makna per kalimat, per bait bait dan akhirnya makna seluruh puisi Di Dalam Dadaku.
Bait I jika dibelah dadaku (maka) akan nampak semua yang diangan berarti di dalam dada atau jiwa tokoh aku terdapat banyak hal. Seolah-olah jika dadanya dibelah maka hal-hal yang di dalam dada tersebut akan tampak.
Bait kedua, ada gunung ada lembah. Ada pohon di pinggir sawah (dan) jalan setapak menuju rumah, berarti segala sesuatu itu ada yang tinggi bagaikan gunung dan ada yang rendah bagaikan lembah. Ada pepohonan yang meneduhkan panas di pinggir sawah yang luas. Kemudian ada jalan setapak menuju rumah impian.
Bait ketiga tapi ada juga kota lama dengan gedung runtuh dan (ketika itu) langit terbakar merah, berarti ada sebuah keadaan dari kota lama yang telah runtuh dan keadaan langit terbakar merah.
Bait keempat, (dan) ada juga hutan rimba (yang mungkin menjadi) tempat nyawa tersesat. (aku) terbayang di dalam lengking rusa yang lari (karena) terluka. (perasaan itu) sudah berkumandang sebelum sempat bersuara, berarti bayangan hutan rimba yang penuh misteri dan tanda tanya. Pengarang terbayang rusa yang lari terluka karena terkena gangguan maupun ancaman.
Bait kelima, kalau alam tak terangkum dalam dada bagaimana kata seakan terbit dari tiada (dan) tangan akan hampa meraih ke udara, berarti jika tak bisa merangkai dan mengambil sesuatu dari alam tidak akan ada kata yang indah akan keluar dari mulut dan tangan tak akan meraih harapan yang ada di dalam udara yang luas.
Setelah menganalisis makna tiap bait, kemudian makna lambang yang diemban bahwa pengarang memiliki banyak angan, harapan dan impian. Gunung dalam puisi ini mengandung sesuatu yang tinggi, yaitu impian atau harapan. Tokoh aku ingin mencapai puncak kebahagiaan, mendapatkan lindungan dalam perjalanan yang luas, serta mendapatkan jalan yang sesuai untuk kembali kepada Tuhan. Tetapi terhadang oleh bayang-bayang kegagalan masa lalu dan juga kekhawatiran akan menghadapi masa depan. Tetapi tokoh aku berhasil mengalahkan perasaan khawatir tersebut karena belajar dari pengalaman yang dialami sehingga ia menjadi bijak dan meraih impian yang diharapkan.
3.         Analisis lapis ketiga (objek-objek, latar, pelaku, ‘dunia pengarang’ dan lain-lain)
Lapis arti menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, ‘dunia pengarang’, makna implisit, dan metafisis.
Pada puisi Di Dalam Dadaku objek yang dikemukakan adalah dadaku, gunung, lembah, pohon, sawah, jalan setapak, rumah, kota lama, gedung, langit, hutan rimba, rusa, alam, dada, tangan dan udara. Pelaku atau tokohnya adalah si aku, sedangkan latarnya adalah di gunung dan lembah menuju jalan ke rumah, kemudian kota lama dengan gedung runtuh, serta hutan rimba tempat yang menakutkan.
Jika objek-objek, latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan menghasilkan dunia pengarang atau isi puisi. Ini merupakan dunia yang diciptakan penyair di dalam puisinya.
Berdasarkan puisi Di Dalam Dada kita dapat menuliskan dunia pengarang sebagai berikut:
Dalam angan tokoh aku terdapat impian yang tinggi yaitu kebahagiaan dan ketenangan menuju jalan Tuhan.  Tetapi untuk mendapatkannya ia teringat kegagalan di kota lama. Selain itu itu juga merasa pesimis melewati hutan rimba, karena takut tersesat dan terkena bahaya seperti rusa yang terluka. Tetapi ia berbahagia karena dapat melaluinya. Jika ia tidak pandai mengambil pengalaman dari alam maka tak mungkin menerbitkan kata yang tiada dan meraih impian di udara.
Ada pula makna implisit yang tidak dinyatakan dalam puisi ini namun dapat dipahami oleh pembaca. Yaitu kata ‘hutan rimba’ memberi gambaran bahwa tempat itu begitu menakutkan.
Dalam puisi iini terasa perasaan-perasaan si aku : penuh harapan, takut, khawatir, dan lega.
Kecuali itu ada unsur metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur metafisis tersebut berupa kekhawatiran hidup manusia, yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan manusia perlu berusaha. Kadang dalam menjalani kehidupan manusia mengalami rasa khawatir karena takut jika usaha yang dilakukannya berakhir dengan kegagalan. Tetapi jika manusia mau berusaha, dan mengambil pelajaran dari kegagalan manusia bisa menjadi bijak dan meraih cita-cita yang diinginkan.
BAB III
SIMPULAN
Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiri.
Menurut beberapa pendapat terdapat tiga lapis atau tahap dalam melakukan analisis berdasarkan strata norma.
1.         Lapis norma pertama adalah lapis bunyi.
2.         Lapis norma kedua adalah lapis arti.
3.         Lapis norma ketiga adalah lapis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi.
Dalam puisi Di Dalam Dada  tersebut terdapat makna yang disampaikan pengarang, yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan manusia perlu berusaha. Kadang dalam menjalani kehidupan manusia mengalami rasa khawatir karena takut jika usaha yang dilakukannya berakhir dengan kegagalan. Tetapi jika manusia mau berusaha, dan mengambil pelajaran dari kegagalan manusia bisa menjadi bijak dan meraih cita-cita yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Hari dan Hara Dua Kunpulan Sajak. Jakarta: Balai Pustaka.
Situmorang, B.P. 1980. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Flores: Nusa Indah.

PENILAIAN KINERJA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha yang disengaja untuk memungkinkan peserta didik mengalami perkembangan melalui proses belajar-mengajar. Melalui pendidikan diharapkan peserta didik mamapu mengembangkan potensi serta meningkatkan kompetensi yang dimilikinya yang meliputi tiga ranah, baik itu dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sehingga diharapkan setelah melewati jenjang pendidikan, dihasilkannya output yang berkompensi dan memiliki karakter yang luhur. Untuk menghasilkan output yang berkompetensi dan berkarakter, maka kegiatan pembelajaran harus mempertimbangkan keseimbangan ketiga ranah tadi.
Untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari kegiatan pembelajaran sudah sesuai dengan tujuan dan kriteria atau belum, maka guru atau pengajar perlu melakukan penilaian. Kegiatan penilaian perlu direncanakan sebelumnya, sehingga data-data atau informasi yang ingin diketahui guru dapat diperoleh. Sejalan dengan hal tersebut, Purwanto (1992: 3) berpendapat bahwa kegiatan penilaian atau evaluasi merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, dengan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Informasi atau data yang yang dikumpulkan harus data yang sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan.
Dengan melakukan penilaian guru akan mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Sehingga guru bisa melakukan tindak lanjut yang berkaitan dengan strategi atau metode mengajar untuk membantu siswa memperbaiki kekurangannya dan meningkatkan potensinya.
Dalam melakukan penilaian, guru perlu menyusun alat untuk mengetahui kemampun siswa. Menurut Suwandi (2009: 26-27) alat penilaian ada yang berbentuk tes dan ada yang berbentuk nontes. Bentuk tes ada yang berbentuk verbal dan ada yang berbentuk nonverbal. Sedangkan penilaian berbentuk nontes digunakan untuk mengukur aspek afektif siswa. Hal ini berkaitan dengan minat dan sikap siswa terhadap suatu mata pelajaran. Dalam menyusun alat penilaian, guru perlu memperhatikan tiga hal yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan upaya tindak lanjut dari informasi atau data yang diperoleh.
Bentuk penilaian nontes terdiri dari berbagai macam cara, salah satunya adalah penilaian kinerja. Apakah penilaian kinerja itu? Bagaimana teknik penerapannya? Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Makalah ini akan mengupas mengenai hal tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian penilaian kinerja?
2.      Bagaimana teknik penerapan penilaian kinerja?
3.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan penggunaan teknik penilaian kinerja?

C.    Tujuan penulisan
1.      Bagaimana pengertian penilaian kinerja?
2.      Bagaimana teknik penerapan penilaian kinerja?
3.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan penggunaan teknik penilaian kinerja.
BAB II
 PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengetahui kemampuan siswa dalam melakukan tindakan atau unjuk kerja. Menurut Thoha (1994: 63) “penilaian tindakan adalah tes di mana respon atau  jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan, tingkah-laku kongkrit. Alat yang dapat digunakan untuk melakukan tes ini adalah observasi atau pengamatan terhadap tingkah-laku tersebut”.
Sejalan dengan pendapat di atas, Suwandi (2009:46) mengemukakan bahwa penilaian kinerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini sesuai untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik untuk melakukan tugas tertentu. Cara ini dianggap lebih otentik dari pada tes tertulis karena yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
Dengan demikian penilaian kinerja adalah teknik penilaian yang yang digunakan guru untuk menilai kemampuan siswa dalam melaksanakan sesuatu ataupun instruksi-instruksi tertentu. Cara penilaian kinerja dianggap dapat merepresentasikan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.

B.     Teknik Penilaian Kinerja
Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen berupa daftar cek (check-list) dan skala penilaian (rating scale) (Suwandi, 2009: 47-48).
1.      Daftar Cek (Check-List)
Daftar cek adalah daftar yang berisi pernyataan mengenai sesuatu yang sedang diamati. Data-data yang diperoleh dari daftar cek digunakan sebagai pertimbangan untuk menilai keadaan individu atau siswa. Menurut Harahap (1979: 39) checklist merupakan suatu laporan berbentuk daftar pertanyaan yang ditujukan kepada keadaan seseorang, suatu prosedur, atau objek lainnya. Daftar itu digunakan dalam observasi atau penilaian untuk mencatat beberapa kali kejadian itu muncul atau tidak muncul. Catatan itu dilakukan dengan membubuhi tanda chek (X) di tempat yang sudah disediakan.
Sedangkan menurut Masidjo (1995: 65) daftar cek adalah sebuah daftar yang memuat sejumlah pernyataan singkat, tertulis tentang berbagai gejala, yang dimaksud sebagai penolong pencatatan ada tidaknya sesuatu gejala dengan cara member tanda cek (V) pada setiap pemunculan gejala yang dimaksud.
Daftar cek merupakan alat pengukur nontes yang memiliki kelebihan yaitu sangat supel mengecek kemampuan yang tampak dalam berbagai tingkah laku atau pernyataan hasil belajar dari berbagai mata pelajaran. Sedangkan kelemahannya adalah daftar cek sangat tergantung pada kejelasan pernyataan-pernyataan dalam daftar cek.
Contoh checklist
Format Penilaian Pidato
Nama peserta didik : _________                                 Kelas : _____
No
Aspek Yang dinilai
Baik
Tidak Baik
1.
Organisasi


2.
Isi (Kedalaman dan logika)


3.
Kelancaran


4.
Bahasa :



Lafal



Gramatikal



Kosakata


5.
Penampilan (kontak mata, ekspresi wajah, gestur)


Skor yang dicapai

Skor maksimum

Keterangan
Baik mendapat skor 1
Tidak baik mendapat skor 0

2.      Skala Penilaian (Rating scale)
Menurut Masidjo (1995: 66-67) skala penilaian adalah daftar yang memuat sejumlah pernyataan, gejala atau perilaku yang dijabarkan dalam bentuk skala atau kategori yang bermakna nilai dari yang terendah sampai trtinggi. Rentangan nilaianya dapat berbentuk huruf (A,B,C,D), angka (1 sampai dengan 10), atau suatu kategori (rendah, sedang, tinggi, dan sebagainya. Pengamat atau guru tinggal member tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai.
Kekuatan skala nilai adalah bahwa dalam waktu yang relatif singkat skala nilai dapat dengan mudah memberikan gambaran mutu penampilan perilaku yang sedang dilakukan individu atau kelompok. Dengan demikian keputusan tentang perilaku yang dinilai dapat diambil. Sedangkan kelemahannya adalah penilai sukar menilai keberadaan setiap aspek perilaku siswa terlepas dari keberadaan aspek-aspek lain. Kesan umum tentang berbagai aspek perilaku siswa akan mempengaruhi penilainya terhadap suatu apek perilaku, sehingga diperoleh hasil penialain yang kurang objektif. Kemudian kekurangan yang lain adalah penilai mendasarkan penilaiannya atas fakta-fakta yang terbatas jumlahnya dalam suatu skala nilai, sehingga hasil penilaian yang diperoleh kurang dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari keseluruhan perilaku siswa (Masidjo, 1995: 70).


Contoh skala penilaian
Format Penilaian Pidato
Nama siswa : _______                                       Kelas : _____
No
Aspek yang Dinilai
Nilai
1
2
3
4
1.
Organisasi




2.
Isi (kedalaman dan logika)




3.
Kelancaran




4.
Bahasa :





Lafal





Gramatika





Kosakata




5.
Penampilan (kontak mata, ekspresi wajah, gestur)




Jumlah




Skor maksimum
28
Keterangan penilaian :
1= tidak kompeten                              3= kompeten  
2= cukup kompeten                            4= sangat kompeten
Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut
1)      Jika seorang siswa mempeoleh skor 26-28 dapat ditetapkan sangat kompeten
2)      Jika seorang siswa mempeoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten
3)      Jika seorang siswa mempeoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten
4)      Jika seorang siswa mempeoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten

 Contoh lembar penilain pembacaan puisi
No
Nama
Aspek yang Dinilai
Pelafalan
Jeda
Penghayatan
Ekspresi
A
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
1.













2.













3.













Keterangan : A= amat baik, B= baik, C= cukup

C.    Kelebihan dan Kekurangan Penilaian Kinerja
Penilain kinerja memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Thoha (1994: 63) penilaian kinerja memiliki keunggulan, antara lain :
1.      Tepat untuk mengukur aspek psikomotor,
2.      Tepat untuk mengetahui sikap yang merefleksi dalam tingkah laku sehari-hari,
3.      Pendidik secara langsung dapat mengamati dengan jelas jawaban-jawaban sehingga lebih mudah dalam memberikan nilai.
Sedangkan kelemahannya antara lain :
1.      Membutuhkan waktu lama, terutama kalau pengamatannya dilakukan perindividu.
2.      Seringkali pendidik terpengaruh oleh gerakan yang tidak menjadi indikator utama dalam penilaian.
3.      Apabila perintah tidak jelas, maka tindakan yang muncul tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Penilaian kinerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini sesuai untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik untuk melakukan tugas tertentu. Cara ini dianggap lebih otentik dari pada tes tertulis karena yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen berupa daftar cek (check-list) dan skala penilaian (rating scale).
Daftar cek adalah sebuah daftar yang memuat sejumlah pernyataan singkat, tertulis tentang berbagai gejala, yang dimaksud sebagai penolong pencatatan ada tidaknya sesuatu gejala dengan cara member tanda cek (V) pada setiap pemunculan gejala yang dimaksud. Sedangkan skala penilaian adalah daftar yang memuat sejumlah pernyataan, gejala atau perilaku yang dijabarkan dalam bentuk skala atau kategori yang bermakna nilai dari yang terendah sampai trtinggi. Rentangan nilaianya dapat berbentuk huru), angka, atau suatu kategori, dan sebagainya. Pengamat atau guru tinggal member tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai.
DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Nasrun dkk. 1979. Teknik Penilaian Hasil Belajar. Jakarta : Bulan Bintang.
Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar siswa di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius.
Purwanto, Ngalim. 1992. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Suwandi, Sarwiji. 2009. Modul Penilaian Kelas dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surakarta.
Thoha, Chabib. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.