Jumat, 10 Mei 2013




KAJIAN STILISTIKA ASPEK GAYA BUNYI DAN DIKSI PADA PUISI ORANG-ORANG BATIK USIA SENJA BELAKANG KERATON 



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Sastra lahir dan tumbuh sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sastra disampaikan pengarang dalam bentuk bahasa. Bahasa pada karya sastra berbeda dengan bahasa pada bidang yang lain. Menurut Wellek dan Warren (dalam Al-Ma’ruf:2010:2) bahasa sastra memiliki ciri khas, penuh ambiguitas dan homonim, memiliki kata-kata yang tidak rasional dan penuh asosiasi. Bahasa yang indah pada sastra dimanfaatkan pengarang sebagai media utama dalam mengungkapkan ekspresi dan gagasannya.
Setiap pengarang memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Dalam sastra gaya bahasa dihubungkan dengan stilistika. Menurut Kridalaksana (2009:227) stilistika (stylistics) 1. Ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesastraan; 2. Penerapan linguistik pada gaya bahasa. Sedangkan menurut Leech dan Short (dalam Nurgiyantoro ,2009:279) stilistika menyaran pada pengertian studi tentang stile, kajian terhadap wujud performasi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra. Pendapat lain dikemukakan oleh Menurut Al-ma’ruf (2009:12) stilistika merupakan ilmu yang mengkaji wujud pemakaian bahasa dalam karya sastra yang meliputi seluruh pemberdayaan potensi bahasa, keunikan dan kekhasan bahasa serta gaya bunyi, pilihan kata, kalimat, wacana, citraan, hingga bahasa figuratif.
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Puisi berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Puisi dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran, ide dan gagasan dari pengarang. Selain itu puisi dimanfaatkan sebagai refleksi pengarang terhadap perubahan dan mengkritisi keadaan zaman yang ditemuinya. Bahasa pada puisi sangat indah. Pengarang memainkan gaya bahasanya dalam menciptakan puisi. Ada yang begitu dominan menggunakan bahasa konotatif, permainan diksi bahkan penggunaan kata konkret untuk menciptakan kejelasan makna.
Banyak pengarang yang bermunculan di Indonesia. salah satunya adalah Imam Budhi Santosa. Perhatiannya pada nilai-nilai kearifan lokal membuatnya begitu menggiati kebudayaan nasional. Salah satunya adalah kehidupan masyarakat Jawa. Pengamatannya terhadap kehidupan orang Jawa membuatnya menciptakan berbagai puisi yang dibukukan dalam Matahari-Matahari Kecil. salah satu puisi yang terdapat dalam buku tersebut adalah Orang-orang batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta. Pada makalah ini akan membahas mengenai penerapan kajian stilistika pada puisi Orang-orang batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta khususnya dengan pendekatan aspek gaya bunyi dan diksi.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka makalah ini akan membahas bagaimana penerapan kajian stilistika aspek gaya bunyi dan diksi pada puisi Orang-orang batik Usia Senja belakang Keraton?
C.  Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah mendeskripsikan penerapan kajian stilistika aspek gaya bunyi dan diksi pada puisi Orang-orang batik Usia Senja belakang Keraton.
D.  Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan pada penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Selain itu diharapkan adanya kegiatan lanjutan yang dilakukan oleh peneliti lain dalam menganalisis puisi ini maupun puisi lain dengan menggunakan pendekatan stilistika.


BAB II
PEMBAHASAN
Stilistika pada puisi diterapkan untuk menemukan gaya bahasa yang khas pada pengarang. Imam Budhi Santosa lahir di Magetan tahun 1948. Banyak karya yang sudah diciptakannya. Salah satu puisi-puisi ciptaannya dibukukan dengan judul Matahari-Matahari Kecil. Sebagian besar isi dari puisi-puisi tersebut bersettingkan kehidupan orang kecil masyarakat Jawa. Mulai dari kehidupan di perkebunan teh, hingga kehidupan di sekitar keraton Yogyakarta. Pengalamannya hidup di tengah lingkungan tersebut berpuluh-puluh tahun membuatnya mengerti keadaan kehidupan yang sebenarnya dari masyarakat tersebut. Hal itu melatarbelakanginya menciptakan puisi Orang-orang batik Usia Senja belakang Keraton.
Kajian stilistika digunakan untuk menemukan aspek estetis pada puisi tersebut. Pada bagian ini akan dilakukan analisis puisi Orang-orang batik Usia Senja belakang Keraton dengan menggunakan pendekatan stilistika dengan pembahasan mengenai gaya bunyi (fonem) dan gaya diksi.
ORANG-ORANG BATIK USIA SENJA BELAKANG KERATON
Masih dengan hati ia memainkan canting
malam yang bening. Meniupnya sesekali
menusuknya dengan ijuk, membuang karat daki
begitu khusyuk. Kadang bersila, atau bersimpuh
seperti luluh (menitiskan ruh)
janji sehidup semati lirik sidamukti
merawat kawung, kiblat tak pernah suwung

Masih dengan sabar ia melukis prasasti
stupa candi, mawar teratai, sampai kijang
dalam dongeng bahari. “Biarlah jika uban
 dan keriput sudah mengunci. Akan kusambung
guratan pujangga, kisah suci Mahabbarata
menjadi sari sutera, permadani tanah Jawa.”
Maka, ia tersenyum (kendati leher tanpa kalung)
santun dengan nasib yang terus mengapung

3
 
Masih dengan bijak ia merangkak
dari hari ke hari, mori demi mori
tanpa sangsi. “Nanti selimuti tubuhku
dengan kain panjang. Ikat daguku dengan selendang
seperti dulu ketika ditimang
lahir ke bumi
dengan telanjang

Kini, aku menunduk. Ngapurancang dan takluk.
Di sini masih ada cinta. Masih ada jari
meracik pernik cantik, membatik wajah Srikandi
menatahnya sebagai wasiat di atas kening sendiri (1997)

1.                  Gaya bunyi

Bunyi adalah salah satu unsur yang berperan dalam puisi. Karena cenderung bersifat kias, bunyi memberikan kekuatan dan daya estetis dalam puisi. Bunyi yang menarik dapat membuat pembaca atau pendengar menjadi tertarik, tersugesti bahkan terharu dengan puisi tersebut.
Puisi Orang-orang Batik Usia Senja Belakang Keraton adalah puisi yang banyak memainkan aspek gaya bunyi. Banyak karya Imam Budhi santosa yang begitu dominan memainkan gaya bunyi. Puisi tersebut banyak ditemukan variasi penggunaan asonansi dan aliterasi. Al-Ma’ruf (2009:47) berpendapat bahwa asonansi adalah pengulangan bunyi vokal yang sama pada rangkaian kata yang berdekatan dalam satu baris. Sedangkan aliterasi merupakan pengulangan bunyi konsonan yang sama pada rangkaian kata yang berdekatan dalam satu baris.
Pada bait pertama begitu dominan pengarang memainkan aliterasi. Jika diamati dalam satuan kalimat terdapat bentuk aliterasi yang bervariasi dan khas.
Masih dengan hati ia memainkan canting
Malam yang bening. Meniupnya sesekali
Menusuknya dengan ijuk, membuang karat daki
Begitu khusyuk. Kadang bersila, atau bersimpuh
Seperti luluh (menitiskan ruh)
Janji sehidup semati lirik sidamukti
Merawat kawung, kiblat tak pernah suwung

Fonem /ng/ muncul pada kata canting yang bertemu dengan bening. Fonem /k/ muncul pada kata ijuk diakhiri dengan khusyuk. Fonem /k/ muncul pada kata bersimpuh bertemu dengan luluh dan ruh. Dan diakhiri dengan aliterasi dari fonem /ng/ pada kata kawung dan suwung. Variasi aliterasi /ng/, /k/, dan /h/ tersebut membuat pembaca atau pendengar menjadi tertarik dengan puisi ini.
Pada bait kedua penulis memadukan permainan asonansi dengan aliterasi. Asonansi lebih ditonjolkan sedangkan aliterasi hanya muncul sekali. Bahkan dalam satuan kalimat, kemunculan asonansi begitu padat dan dominan.
Masih dengan sabar ia melukis prasasti
Stupa candi, mawar teratai, sampai kijang
Dalam dongeng bahari. “Biarlah jika uban
 dan keriput sudah mengunci. Akan kusambung
guratan pujangga, kisah suci Mahabbarata
menjadi sari sutera, permadani tanah Jawa.”
Maka, ia tersenyum (kendati leher tanpa kalung)
Santun dengan nasib yang terus mengapung
........................................................

Fonem /i/ muncul pada kata prasasti bertemu dengan candi, teratai, dan bahari. Kemudian fonem /a/ muncul pada kata pujangga, mahabbarata, sutera dan Jawa. Fonem /i/ dan /a/ tersebut menimbulkan nada tinggi dan membuat suasana gembira. Hal itu berbeda dengan aliterasi yang ditunjukkan oleh fonem /ng/ pada kata kalung dan mengapung. Fonem tersebut menimbulkan efek kakafoni. Kakafoni menurut (Al-Ma’ruf 2009:48) adalah bunyi-bunyi parau, berat, kasar dan tidak menyenangkan yang menimbulkan tidak menimbulkan musikalisasi bunyi. Fonem /ng/ tersebut menimbulkan efek berat pada puisi.
Pada bait ketiga kembali terdapat perpaduan antara aliterasi dan asonansi. Sama dengan bait kedua kehadiran asonansi dan aliterasi tersebut sangat dominan dan memadati bait.
Masih dengan bijak ia merangkak
Dari hari ke hari, mori demi mori
Tanpa sangsi. “Nanti selimuti tubuhku
Dengan kain panjang. Ikat daguku dengan selendang
Seperti dulu ketika ditimang
Lahir ke bumi
Dengan telanjang
Asonansi muncul dari fonem /i/ yang terdapat pada kata dari hari ke hari, mori demi mori tanpa sangsi. Kehadiran fonem /i/ yang padat menimbulkan efek sedih dan rasa iba. Sedangkan aliterasi muncul dari fonem /k/ pada kata bijak dan merangkak/ selain itu muncul pula fonem /ng/ pada kata panjang, selendang, ditimang, dan telanjang. Kehadiran fonem /k/ dan /ng/ tersebut kembali mengadirkan nuansa kakafoni. Muncul efek sedih, dan berat pada bait ini.
Pada bait keempat muncul pola yang berbeda dari bait-bait sebelumnya. Kemunculan aliterasi dan asonansi tidak sepadat bait sebelumnya. Hal ini karena dipengaruhi jumlah baris pada bait keempat yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan bait yang lain.
Kini, aku menunduk. Ngapurancang dan takluk.
..........................................................
Meracik pernik cantik, membatik wajah Srikandi
Menatahnya sebagai wasiat di atas kening sendiri

Aliterasi muncul dengan fonem /k/ pada kata menunduk dan takhluk. Selain itu /k/ juga hadir pada bentuk lain pada kata pernik, cantik dan membatik. Dua jenis variasi fonem /k/ tersebut menimbulkan efek makna yang bersifat pasrah dan tenang terhadap segala ketentuan yang akan terjadi. Namun selain itu, tetap ada semangat untuk terus melakukan sesuatu.
Kehadiran asonansi fonem /i/ pada kata Srikandi dan sendiri menimbulkan efek semangat yang berhubungan dengan fonem /k/ pada bentuk pernik, cantik dan membatik.

2.                  Gaya Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata oleh penulis atau pengarang. Menurut Al-ma’ruf (2010:29) diksi diartikan sebagai pemilihan kata yang dilakukan oleh pengarang dalam karyanya. Sedangkan menurut Kridalaksana (2009:50) diksi merupakan pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang-mengarang. Dari pendapat di atas ditemukan esensi bahwa diksi digunakan oleh pengarang dalam karyanya agar memperoleh efek tertentu.
Menurut Al-Ma’ruf (2009:53) terdapat banyak diksi dalam karya sastra, diantaranya: kata konotatif, konkret, kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas Jawa, kata serapan, kata asing, arkaik (kata yang sudah mati dihidupkan lagi), kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kosakata dari bahasa daerah.
Pada puisi Orang-orang Batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta ini terdapat gaya diksi pada kata konotatif, konkret dan kosakata bahasa Jawa.
a.        Kata konotatif
Kata konotatif adalah kata yang bermakna kiasan atau tidak langsung. Puisi sarat akan kehadiran kata konotatif. Hal ini dianggap wajar karena selain sudah menjadi konvensi internasional, kemunculan kata konotatif memberikan bentuk estetis tersendiri pada puisi.
Pada bait pertama puisi ini terdapat kata konotatif  pada baris keenam dan tujuh.
....// janji sehidup semati lirik sidamukti/ merawat kawung, kiblat tak pernah suwung//
 kata konotatif tersebut memberikan gambaran bahwa para pembatik yang sudah berusia senja tersebut tetap teguh, tanpa lelah terus melakukan aktivitasnya. Dibuktikan dengan kesetiaannya untuk terus membatik sidakmukti, yang merupakan salah satu bentuk motif batik. Kesetiaannya untuk merawat dan melestarikan kebudayaan dan warisan budaya menunjukkan bahwa mereka tidak pernah melupakan kiblat, yaitu budaya yang sudah lama mereka jalani dan jaga. Tidak ada bentuk kekosongan dari budaya yang mereka jalani.
Pada bait kedua kata konotatif disampaikan dalam baris 3-7 dan 9. ...// “Biarlah jika uban dan keriput sudah mengunci//. //Akan kusambung guratan pujangga/,/ kisah suci Mahabbarata menjadi sari sutera/,/ permadani tanah Jawa.”//.../santun dengan nasib yang terus mengapung//. Uban dan keriput merupakan lambang dari seseorang yang sudah tua. Keadaan tua tidak bisa dilawan, itu merupakan kodrat dari fase yang harus dialami manusia. Walaupun usia sudah tua bahkan bisa dikatakan sudah renta, namun para pembatik ini terus bekerja dan berkarya membuat batik yang sarat akan makna. Semua batik yang diciptakan tidak terlepas dari unsur filosofis yang tinggi di dalamnya. Kisah-kisah keteladanan bijak yang dituliskan pujangga digubah menjadi guratan pola dan balutan malam yang lembut menjadi batik.
Batik merupakan ciri khas dan permadani atau karya yang agung dari tanah Jawa. Nasib yang mengapung menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai pembatik tidak menghasilkan penghasilan yang besar. Prinsip ini menunjukkan kesabaran orang Jawa dalam bekerja, senajan ora nyugihi nanging iso nguripi. Walaupun pekerjaan ini tidak akan membuatmu kaya tetapi bisa menghidupi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pada bait ketiga kehadiran kata konotatif muncul pada baris 1-3. //Masih dengan bijak ia merangkak/dari hari ke hari/,/ mori demi mori tanpa sangsi.// ... sikap pembatik yang halus dan santun terus mengukir malam pada kain mori putih. Tidak ada rasa mengeluh dengan keadaan yang dialami. Walaupun keadaan ekonomi pas-pasan, mereka terus giat untuk melakukan pekerjaannya dengan semangat.
Pada bait keempat semua kata-kata yang dimunculkan terwujud dalam kata konotatif. //Kini, aku menunduk//.// Ngapurancang dan takluk.// Di sini masih ada cinta. //Masih ada jari meracik pernik cantik/,/ membatik wajah Srikandi/menatahnya sebagai wasiat di atas kening sendiri// sikap orang Jawa adalah bekerja dan menyerahkan semua kehendak yang terjadi kepada sang pencipta kehidupan. Menunduk dan takluk mengisyaratkan bahwa manusia itu harus takluk terhadap kekuasaan Tuhan. Usia tua tidak menghalangi untuk terus bekerja. Karena cinta yang membuat semuanya terasa indah untuk dijalani. Jari-jari yang sudah mulai pucat terus membuat guratan pada mori dengan berbagai motif. Batik merupakan warisan budaya nasional yang sudah diakui keberadaanya oleh dunia.
b.        Kata konkret
Kata konkret bisa dikatakan sebagai kata nyata atau bermakna denotasi. Kata denotasi adalah kata yang bermakna sebenarnya. Kehadiran kata konkret dalam puisi diperlukan sebagai petunjuk bagi pembaca atau pendengar untuk memahami maksud yang disampaikan pengarang. Imam Budhi Santosa cenderung bermain kata konkret. Bentuk puisinya padat, mendeskripsikan keadaan dan kejadian yang dialaminya. Kehadiran kata konkret yang dominan tidak mengurangi nilai estetis dari puisinya. Justru itu menunjukkan kekhasan dari gaya bahasa yang ditampilkan Santosa.
Bait pertama terdapat kata konkret pada baris 1-5. //Masih dengan hati ia memainkan canting malam yang bening//. //Meniupnya sesekali/ menusuknya dengan ijuk/,/ membuang karat daki begitu khusyuk//. //Kadang bersila/,/ atau bersimpuh seperti luluh (menitiskan ruh)// kehadiran kata konkret tersebut menggambarkan bagaimana ketulusan dan keseriusan pembatik. Dengan sabar dan penuh ketelitian ia menuangkan cairan malam ke kain. Sesekali membersihkan canting dari malam yang mengering di lubang canting. Begitu proses yang panjang untuk membuat satu kain batik dengan motif yang beraneka ragam. Dengan tubuh yang sudah tua, keadaan fisik yang sudah menurun tidak menghalangi mereka untuk tetap bekerja. Salah satu permasalahan yang dihadapi orang tua adalah penyakit nyeri atau kaki yang mudah kesemutan. Hal itu kadang disiasati dengan duduk bersila atau bersimpuh. Semua dilakukan untuk sebuah pekerjaan yang tulus.
Bait kedua muncul juga kata konkret pada baris 1-3 dan 8. //Masih dengan sabar ia melukis prasasti/ stupa candi/, /mawar teratai/, /sampai kijang dalam dongeng bahari.// ...//Maka/, /ia tersenyum (kendati leher tanpa kalung)// para pembatik dengan sabar melukis gambar-gambar pada motif batik. Mereka melakukannya dengan sabar dan tekun. Upah dari pekerjaan mereka memang tidak besar. Hal itu ditunjukkan dengan kendati leher mereka tanpa kalung, kalung merupakan simbol dari kebahagiaan wanita yang cenderung menyukai perhiasan. Walaupun tanpa perhiasan mereka tetap tersenyum dan bahagia dengan pekerjaan yang mereka lakukan.
Bait ketiga muncul kata konkret pada baris 3-7. “Nanti selimuti tubuhku dengan kain panjang//. //Ikat daguku dengan selendang seperti dulu ketika ditimang lahir ke bumi dengan telanjang//. Ini merupakan bentuk konkret dari keadaan dimana seseorang mengalami kematian. Untaian kalimat tersebut menggambarkan pengharapan dari pembatik ketika tubuh rentanya sudah tidak bernyawa, ia minta untuk dirawat dengan baik, sebelum menghadap sang pencipta. Muncul efek berat dan sedih dari bentuk kalimat tersebut yang menambah estetis puisi.
c.         Kosakata Bahasa Jawa
Pada puisi ini muncul kosakata bahasa Jawa hal ini menunjukkan keadaan sosial dari pengarang. Santosa menyampaikan dalam pengantar Matahari-matahari Kecil bahwa puisinya diciptakan atas pengalamannya sejak bekerja di perkebuh teh di lereng Gunung Ungaran dan sengaja merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal di Jawa. Dari pernyataan tersebut pada puisi ini ditemukan kosakata bahasa Jawa sebagai berikut:
1)   Pada bait pertama ditemukan kata sidamukti, kawung, dan suwung pada baris 6-7.
janji sehidup semati lirik sidamukti/ merawat kawung, kiblat tak pernah suwung//
Sidamukti, kawung dan suwung adalah kosakata dalam bahasa Jawa. Penggunaan kosakata tersebut menambah aspek estetis dalam puisi ini. Kata “sida” sendiri berarti jadi, menjadi atau terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bias tercapai. Salah satunya adalah sida mukti, yang mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Kawung juga merupakan jenis motif. Sedangkan suwung berarti sepi,atau tidak berisi.
2)   Pada bait keempat baris pertama
//Kini, aku menunduk//. //Ngapurancang dan takluk.//
Ngapurancang adalah posisi dimana seseorang berdiri dengan tegap dan kedua tangan saling menggenggap (pada umumnya tangan kanan memegang tangan kiri) dengan posisi tangan berada di bawah pusar. Penggunaan kosakata ini menguatkan aspek estetis pada puisi ini. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya bisa pasrah dan terus berusaha untuk memperjuangkan nasibnya.


BAB III
PENUTUP
Simpulan
Pada puisi Orang-orang batik Usia Senja belakang Keraton karya Imam Budhi Santosa merupakan puisi yang sarat akan nilai estetik. Pendekatan stilistika digunakan untuk menggali dan menemukan keindahan gaya bahasa yang digunakan pengarang.
Setelah diterapkan kajian stilistika yang menekankan pada aspek gaya bunyi (fonem) dan gaya diksi, ditemukan kekhasan gaya penulisan oleh pengarang. Pengarang cenderung menggunakan permainan kosakata dan diksi, penggunaan kata konkret maupun konotatif yang padat pada baris dan baitnya. Tidak terlalu banyak menggunakan bahasa kiasan sehingga makna yang diterka pembaca mudah ditemukan. Penggunaan fonem kakafoni lebih dominan sehingga menguatkan makna yang dikandung puisi ini. Puisi ini terasa sedih, berat dan parau menggambarkan keadaan yang dialami oleh para pembatik yang sudah berusia senja yang terus bekerja dengan kehidupan yang sederhana.
Selain itu, banyak nilai kearifan lokal yang tersirat dalam puisi ini. Para pembatik adalah orang yang setia dengan pekerjaannya. Walaupun tidak membuat kaya, mereka tetap teguh  mengukir batik sebagai lambang budaya bangsa. sebelum ajal menjemput mereka masih teguh,bekerja, berusaha dan berkarya melaksanakan kehidupan yang harus dijalani.








11
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: CakraBooks.
_________________. 2010. Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik. surakarta: UNS Press.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Santosa, Imam Budhi. 2004. Matahari-Matahari Kecil: Orang-orang Batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta. Jakarta: PT Grasindo.